Annisa

Kontributor

1 minggu yang lalu


Perfeksionisme: Ketika Standar Tinggi Berubah Menjadi Beban Berat

1 minggu yang lalu - By Annisa

Pernahkah kamu merasa tidak gak cukup baik meskipun sudah melakukan yang terbaik? Atau menunda-nunda sesuatu karena takut hasilnya nggak sempurna? Kalau iya, bisa jadi kamu punya kecenderungan perfeksionisme. Banyak orang menganggap perfeksionisme sebagai hal positif,yaitu bukti bahwa kamu punya standar tinggi dan selalu berusaha maksimal. Padahal, kalau berlebihan, perfeksionisme justru bisa membuat kamu overthinking, mudah stres, dan sulit menikmati hasil kerja kerasmu sendiri.

Secara psikologis, perfeksionisme adalah dorongan untuk menetapkan standar yang sangat tinggi dengan toleransi yang rendah terhadap kesalahan. Bukannya termotivasi, kamu justru lebih sering merasa cemas dan takut gagal. Perfeksionisme juga bisa membuatmu menghindari tantangan karena takut tidak bisa memenuhi ekspektasi sendiri atau orang lain. Misalnya, menunda mengirim tugas karena terus merasa ada yang kurang, atau menghabiskan waktu berjam-jam mengedit foto sebelum diunggah ke media sosial karena takut akan penilaian orang lain.

Perfeksionisme biasanya berakar dari pengalaman masa kecil, seperti didikan orang tua yang sangat kritis atau lingkungan yang penuh tekanan. Kalau sejak kecil kamu sering dikritik atau hanya diapresiasi saat mencapai sesuatu yang luar biasa, tanpa sadar kamu bisa tumbuh dengan pola pikir bahwa nilai dirimu hanya bergantung pada pencapaianmu. Akibatnya, kamu cenderung terlalu keras pada diri sendiri dan sulit merasa puas.

Lalu, bagaimana cara untuk berdamai dengan perfeksionisme? Pertama, coba lakukan sesuatu tanpa terlalu terpaku pada hasil akhir, fokuslah pada proses dan izinkan dirimu untuk membuat kesalahan. Kedua, latih diri untuk berhenti sejenak dan sadari bahwa nggak ada manusia yang sempurna. Terakhir, biasakan mencatat pencapaian kecilmu setiap hari. Jangan hanya berfokus pada hal yang belum kamu lakukan, tetapi juga apresiasi usaha yang sudah kamu lakukan. Hidup bukan soal sempurna atau tidaknya, tetappi soal bagaimana kamu belajar dan berkembang dari setiap proses yang kamu jalani.